Tanggal 7 Juni 2026 menjadi momen bersejarah bagi keluarga besar STM Pembangunan Semarang, yang kini dikenal sebagai SMK Negeri 7 Semarang. Sekolah kejuruan legendaris ini genap berusia 55 tahun.
Bagi ribuan alumninya yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara, usia 55 tahun bukan sekadar angka. Momentum ini menjadi penanda panjangnya perjalanan sebuah institusi pendidikan vokasi yang telah melahirkan teknisi, insinyur, akademisi, birokrat, pengusaha, hingga pemimpin di berbagai bidang.
STM Pembangunan Semarang berdiri pada 7 Juni 1971. Saat itu, sekolah ini diresmikan oleh Presiden RI Soeharto dengan nama Proyek Perintis Sekolah Teknologi Menengah Pembangunan Semarang.
Pada masa itu, pemerintah hanya menunjuk sejumlah sekolah perintis teknologi sebagai model pendidikan vokasi untuk mendukung pembangunan nasional. STM Pembangunan Semarang menjadi salah satu sekolah yang memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia.
Seiring perjalanan waktu, sekolah ini mengalami perubahan nama. Pada periode 1985-1986, sekolah tersebut dikenal sebagai STM Pembangunan Semarang. Kemudian pada 1995, namanya berubah menjadi SMK Negeri 7 Semarang, mengikuti transformasi sistem pendidikan kejuruan nasional.
Meski nama berubah, semangat pendidikannya tetap sama. Sekolah ini terus menyiapkan generasi yang terampil, berkarakter, disiplin, dan siap berkarya bagi bangsa.
Alumni STM Pembangunan Semarang Angkatan 1991, Dr Jumadi Subur, menyebut kekuatan sebuah sekolah tidak hanya dilihat dari usia maupun bangunannya. Menurutnya, kekuatan sekolah justru tampak dari manusia-manusia yang dilahirkannya.
“Ketika melihat daftar peserta Reuni Akbar dan Dies Natalis ke-55 tahun ini, saya merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada alumni yang hampir menyelesaikan pendidikan di STM Pembangunan ketika saya baru lahir. Sebaliknya, ada pula alumni muda yang lahir ketika saya telah meninggalkan bangku sekolah,” kata Jumadi dalam keterangannya.
Jumadi mengatakan, tiga hingga empat generasi alumni kini berhimpun dalam satu keluarga besar. Hal itu menunjukkan bahwa STM Pembangunan Semarang bukan sekadar sekolah, melainkan mata rantai yang menghubungkan generasi demi generasi.
“Ia menjadi rumah yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ikatan persaudaraan yang bernama Kamisetembang,” ujarnya.
Dari ruang kelas dan bengkel praktik di kawasan Simpang Lima Semarang, ribuan kisah perjuangan lahir. Banyak siswa datang dari keluarga sederhana. Mereka menempuh pendidikan dengan berbagai keterbatasan, namun membawa harapan besar untuk mengubah masa depan keluarga.
Di sekolah itu, para siswa belajar menggambar teknik, membubut logam, merancang instalasi listrik, memahami mesin, elektronika, otomotif, hingga teknologi informasi. Namun lebih dari itu, mereka juga ditempa dalam nilai disiplin, ketelitian, tanggung jawab, kerja keras, dan ketangguhan.
Hasilnya terlihat dari kiprah para alumni. Mereka kini tersebar di berbagai sektor. Ada yang menjadi teknisi di industri nasional dan multinasional, engineer, project manager, direktur, hingga pimpinan perusahaan.
Sebagian alumni juga menempuh jalur akademik hingga meraih gelar doktor dan profesor. Ada yang menjadi dosen, peneliti, kepala sekolah, bahkan rektor perguruan tinggi.
Tidak sedikit pula yang memilih jalur wirausaha. Mereka mendirikan perusahaan, membuka bengkel, membangun industri, menciptakan lapangan kerja, hingga memberi peluang bagi adik-adik kelasnya sendiri.
“Inilah salah satu keunikan pendidikan vokasi. Ia tidak hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi juga pencipta kerja,” tutur Jumadi.
Menurut Jumadi, Reuni Akbar dan Dies Natalis ke-55 menghadirkan pemandangan yang penuh makna. Murid bertemu guru, guru bertemu senior, kepala sekolah yang pernah memimpin kembali bertemu para alumni. Angkatan tua dan muda duduk bersama tanpa sekat jabatan, pangkat, maupun status sosial.
Di luar almamater, kata dia, seseorang mungkin dikenal sebagai direktur, profesor, komisaris, kepala dinas, atau pemilik perusahaan besar. Namun saat kembali ke gerbang sekolah, semuanya kembali menjadi bagian dari keluarga besar STM Pembangunan.
“Ketika memasuki gerbang almamater, semua kembali menjadi anak STM Pembangunan. Di sinilah letak keistimewaan sebuah almamater. Ia mengingatkan bahwa sehebat apa pun perjalanan seseorang, selalu ada titik awal yang patut dikenang dan disyukuri,” katanya.
Dies Natalis ke-55 ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran pendidikan vokasi dalam menghadapi masa depan Indonesia. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomasi industri, digitalisasi, dan transformasi teknologi, Indonesia tetap membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi.
Nilai-nilai yang selama puluhan tahun diajarkan di STM Pembangunan Semarang, seperti kerja keras, ketekunan, inovasi, kolaborasi, dan integritas, dinilai semakin relevan dengan tantangan zaman.
“Pada akhirnya, mesin secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir, berkreasi, dan bertanggung jawab,” ujar Jumadi.
Jumadi menilai, usia 55 tahun bukan hanya perayaan umur sebuah sekolah. Lebih dari itu, momentum ini menjadi perayaan atas ribuan mimpi yang tumbuh di dalamnya, jutaan jam kerja keras alumni, serta jejak pengabdian yang menyebar dari Simpang Lima Semarang ke berbagai penjuru negeri.
“Semoga sekolah ini terus menjadi bengkel kehidupan yang menempa generasi unggul, melahirkan karya-karya terbaik, dan menyalakan harapan bagi Indonesia,” ucapnya.
Ia berharap kisah besar STM Pembangunan Semarang terus berlanjut. Selama masih ada siswa yang berani bermimpi, guru yang setia mendidik, dan alumni yang menjaga persaudaraan, jejak sekolah ini diyakini akan terus melampaui zaman.
